Senin, 04 Juni 2012

Keterbatasan untuk Kretivitas Tanpa Batas


Mari Bangkit dari Keterbatasan

Setiap orang pasti mempunyai kekurangan serta keterbatasan, yang membedakannya adalah bagaimana orang tersebut menyikapinya. Ada orang yang malah terpuruk karena keterbatasan tersebut, tetapi banyak orang yang bangkit dari keterbatasan tersebut. Keterbatasan tidak hanya pada fisik saja, tetapi jauh lebih luas lagi. Keterbatasan jiwa yang besar, pikiran, ekonomi, dan lain sebagianya. Mungkin keterbatasan jiwa yang besar atau tekat yang besar, merupakan yang paling memprihatinkan. Dan saya pastikan pada diri saya sendiri, saya bukan termasuk orang yang mempunyai keterbatasan jiwa, tekat, dan harapan yang besar.

Memulainya dari mimpi, percaya, dan usahakan. Begitulah motto hidup saya, mimpi merupakan sumber alasan, motivasi, dan harapan yang besar yang tentunya akan membuat orang akan menjadi besar pula. Percaya, jauh sangat luas pengertian percaya disini, percaya pada kemampuan diri yang pasti dapat mewujudkan dan meraih mimpi-mimpi, percaya kepada Allah yang menciptakan saya, percaya kepada doa-doa saya, serta percaya kepada setiap doa dan peluh orang tua. Usahakan, jelas ini bentuk aksi dari mimpi dan percaya.

Dibesarkan dalam keluarga yang sederhana, tetapi tidak menyurutkan niat dan cita yang besar untuk terus menjadi “not ordinary girl”. Sejak kecil saya terkenal sebagai pembeda, baik di lingkungan keluarga besar, lingkungan rumah, dan lingkungan sekolah. Pembeda disini dalam artian positif, bukan cenderung negatif. Ketika teman bersekolah di sekolah biasa, saya memutuskan dan mengusahakan agar dapat bersekolah yang diatas biasa (favorit). Walaupun ditengah keadaan ekonomi yang biasa-biasa saja, tetapi baik saya dan keluarga yakin ketika ada kemauan yang kuat dan tulus pasti Allah akan memberikan jalan-Nya. Keterbatasan ekonomi bukan menjadi halangan yang berarti, walaupun memang saya akui terkadang menjadi batu sandungan yang membuat saya tersendat dalam hal pembayaran biaya sekolah, tetapi hal itu tidak menjadi batu sandungan yang berarti bagi tekat yang besar.

Segalanya akan berjalan mudah dan mungkin, jika kamu percaya kepada kemampuan dirimu serta kebesaran yang menciptakanmu. Terus mengasah kemampuan dan keterbatasan, itulah yang selalu saya lakukan di kehidupan saya agar tetap harapan serta cita yang besar agar terwujud. Kemampuan akan membuat kita makin besar lagi dari sekarang dan keterbatasan yang kita asah menjadi kelebihan positif, jika kita mengambil sisi positifnya, akan membuat kita makin mantap serta kuat.

Mungkin saya orang yang terkesan ambisius karena target-target saya yang sangat banyak dan menanamkan pada diri “harus tercapai”. Ini pembelajaran yang berat dan pendewasaan yang saya rasa begitu cepat, saya anak pertama dari keluarga yang sederhana. Saya selalu berpikiran harus dapat membanggakan orang tua yang sudah susah payah dan sangat mengusahakan agar saya dapat menikmati pendidikan yang tinggi, disisi lain saya seorang kakak yang harus menjadi contoh bagi adik-adik saya untuk menanamkan dalam diri “kerja keras, kerja keras, kerja keras”.  Ditengah keterbatasan ekonomi, saya memang hanya bekerja paruh waktu seadanya saja, yaitu di Bursa Asrama. Mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan mengajar privat. Dikarenakan saya orang yang lemah di fisik (gampang sakit), jadi saya memutuskan untuk mengembangkan akademis serta pengalaman berorganisasi daripada mengajar privat yang membuat saya lebih cepat sakit dan tidak dapat mengembangkan akademis dan pengalaman organisasi. Sehingga yang saya lakukan selama ini adalah mengatur keuangan dengan baik. Karena berorganisasi juga bukan suatu yang murah, banyak hal yang harus dibayarkan (financial).

Dalam kerendahan diri, ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta, ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup, ada keluasan ilmu.

Hidup ini indah jika segalanya karena Allah. (HAMKA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar