Keterbatasan untuk Kretivitas Tanpa Batas
Mari Bangkit dari Keterbatasan
Setiap
orang pasti mempunyai kekurangan serta keterbatasan, yang membedakannya adalah
bagaimana orang tersebut menyikapinya. Ada orang yang malah terpuruk karena
keterbatasan tersebut, tetapi banyak orang yang bangkit dari keterbatasan
tersebut. Keterbatasan tidak hanya pada fisik saja, tetapi jauh lebih luas
lagi. Keterbatasan jiwa yang besar, pikiran, ekonomi, dan lain sebagianya.
Mungkin keterbatasan jiwa yang besar atau tekat yang besar, merupakan yang
paling memprihatinkan. Dan saya pastikan pada diri saya sendiri, saya bukan
termasuk orang yang mempunyai keterbatasan jiwa, tekat, dan harapan yang besar.
Memulainya
dari mimpi, percaya, dan usahakan. Begitulah motto hidup saya, mimpi merupakan
sumber alasan, motivasi, dan harapan yang besar yang tentunya akan membuat
orang akan menjadi besar pula. Percaya, jauh sangat luas pengertian percaya
disini, percaya pada kemampuan diri yang pasti dapat mewujudkan dan meraih
mimpi-mimpi, percaya kepada Allah yang menciptakan saya, percaya kepada doa-doa
saya, serta percaya kepada setiap doa dan peluh orang tua. Usahakan, jelas ini
bentuk aksi dari mimpi dan percaya.
Dibesarkan
dalam keluarga yang sederhana, tetapi tidak menyurutkan niat dan cita yang
besar untuk terus menjadi “not ordinary
girl”. Sejak kecil saya terkenal sebagai pembeda, baik di lingkungan
keluarga besar, lingkungan rumah, dan lingkungan sekolah. Pembeda disini dalam
artian positif, bukan cenderung negatif. Ketika teman bersekolah di sekolah
biasa, saya memutuskan dan mengusahakan agar dapat bersekolah yang diatas biasa
(favorit). Walaupun ditengah keadaan ekonomi yang biasa-biasa saja, tetapi baik
saya dan keluarga yakin ketika ada kemauan yang kuat dan tulus pasti Allah akan
memberikan jalan-Nya. Keterbatasan ekonomi bukan menjadi halangan yang berarti,
walaupun memang saya akui terkadang menjadi batu sandungan yang membuat saya
tersendat dalam hal pembayaran biaya sekolah, tetapi hal itu tidak menjadi batu
sandungan yang berarti bagi tekat yang besar.
Segalanya akan berjalan mudah dan
mungkin, jika kamu percaya kepada kemampuan dirimu serta kebesaran yang
menciptakanmu. Terus mengasah kemampuan dan
keterbatasan, itulah yang selalu saya lakukan di kehidupan saya agar tetap
harapan serta cita yang besar agar terwujud. Kemampuan akan membuat kita makin
besar lagi dari sekarang dan keterbatasan yang kita asah menjadi kelebihan
positif, jika kita mengambil sisi positifnya, akan membuat kita makin mantap
serta kuat.
Mungkin
saya orang yang terkesan ambisius karena target-target saya yang sangat banyak
dan menanamkan pada diri “harus tercapai”. Ini pembelajaran yang berat dan
pendewasaan yang saya rasa begitu cepat, saya anak pertama dari keluarga yang
sederhana. Saya selalu berpikiran harus dapat membanggakan orang tua yang sudah
susah payah dan sangat mengusahakan agar saya dapat menikmati pendidikan yang
tinggi, disisi lain saya seorang kakak yang harus menjadi contoh bagi adik-adik
saya untuk menanamkan dalam diri “kerja keras, kerja keras, kerja keras”. Ditengah keterbatasan ekonomi, saya memang
hanya bekerja paruh waktu seadanya saja, yaitu di Bursa Asrama. Mungkin tidak
seberapa jika dibandingkan dengan mengajar privat. Dikarenakan saya orang yang
lemah di fisik (gampang sakit), jadi saya memutuskan untuk mengembangkan
akademis serta pengalaman berorganisasi daripada mengajar privat yang membuat
saya lebih cepat sakit dan tidak dapat mengembangkan akademis dan pengalaman
organisasi. Sehingga yang saya lakukan selama ini adalah mengatur keuangan
dengan baik. Karena berorganisasi juga bukan suatu yang murah, banyak hal yang
harus dibayarkan (financial).
Dalam kerendahan diri, ada
ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta, ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan
hidup, ada keluasan ilmu.
Hidup ini indah jika segalanya karena
Allah. (HAMKA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar